May 19, 2015

Indonesia tekankan pentingnya pelayanan kesehatan primer dan Jaminan Kesehatan untuk mewujudkan sistem kesehatan tangguh dan kuat


Sinergi antara pilar ekonomi, sosial dan lingkungan merupakan aspek penting dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang menjadi prioritas nasional Indonesia. Dengan adanya sistem kesehatan yang tangguh dan mudah beradaptasi, tantangan dari aspek kesehatan dan di luar aspek kesehatan dapat ditangani. Tantangan-tantangan seperti kematian ibu, stunting, lingkungan kesehatan, dan tenaga kesehatan serta faktor-faktor economic and social determinants diharapkan dapat teratasi.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, pada saat memberikan pernyataan pada sesi Pleno Sidang World Health Assembly (WHA) ke-68 pada tanggal 19 Mei 2015, bertempat di Kantor PBB Jenewa, Swiss.

Salah satu upaya Pemerintah Indonesia untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh adalah penguatan sistem keuangan kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Melalui JKN, Pemri menyediakan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat. Saat ini JKN telah melayani 143 juta orang guna mencapai universal health coverage tahun 2019.

Untuk mencapai Indonesia Sehat pada tahun 2019, saat ini sedang dilakukan transformasi dan reformasi pelayanan kesehatan primer. Selain kesehatan primer, penguatan sistem kesehatan juga dilakukan melalui sistem rujukan yang efektif, layanan kesehatan yang kuat di rumah sakit dan penelitian visioner untuk ilmu kedokteran dalam kerangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang adil dan inklusif bagi semua masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Menkes RI juga menyampaikan komitmen Indonesia untuk terus implementasikan International Health Regulation sebagai panduan utama bagi seluruh negara anggota PBB dalam meningkatkan kapasitas nasionalnya untuk menghadapi berbagai ancaman kesehatan global. Di samping itu, Menkes juga menekankan beberapa isu lain, yaitu: pentingnya masyarakat internasional untuk terus memberikan dukungan terhadap kampanye global untuk eradikasi polio dengan mempertimbangkan kondisi nasional masing-masing negara serta mendorong implementasi penuh Pandemic Influenza Preparedness Framework yang merupakan salah satu capaian terbesar masyarakat internasional pasca keberhasilan penanganan kasus avian influenza (flu burung).

Sidang WHA ke-68 dibuka pada tanggal 18 Mei 2015 dan akan berlangsung hingga tanggal 26 Mei 2015. Tema utama Sidang WHA tahun ini adalah “building resilient health system”, khususnya terkait dengan peristiwa wabah Ebola di kawasan Afrika Barat yang telah menjadi isu kesehatan darurat dan memerlukan perhatian global. Terkait tema tersebut, para Menkes negara anggota WHO menyampaikan upaya-upaya yang dilakukan oleh negaranya untuk memperkuat sistem kesehatannya.

Delegasi Indonesia pada Sidang WHA tahun 2015 ini dipimpin oleh Menkes RI dan beranggotakan para pejabat dari Kemkes, Kemlu, Badan POM RI, serta Perutusan Tetap RI pada PBB di Jenewa. Selain telah memberikan pernyataan pada sesi pleno, Menkes RI juga telah menyampaikan sambutan pada saat diselenggarakannya pertemuan ke-8 para Menkes negara-negara Gerakan Non-Blok.

 

Jenewa, 19 Mei 2015

Beberapa foto dari sidang WHA (dok. PTRI Jenewa)

Menkes menyampaikan pidatonya

Menkes RI dengan Menkes China

Menkes RI dengan Menkes China

Menkes RI dengan Watapri dan staf PTRI Jenewa

 

Useful Links
Deplu
Depkes
Budpar
BKPM
UN
WHO
ILO
Nafed
WIPO
WTO
ITU