August 12, 2015

Mencegah Pengembangan Senjata Biologi Melalui Pedoman Perilaku untuk Keamanan Hayati


Atas dukungan Wakil Tetap RI di Jenewa, Dr. Herawati Sudoyo, Deputy Director Eijkman Institute hadir sebagai pembicara pada side event yang bertemakan “National Measures to Address Dual Use Research”. Side event ini diselenggarakan pada tanggal 12 Agustus 2015, di tengah-tengah pelaksanaan Pertemuan Para Ahli Konvensi Senjata Biologi di Jenewa, Swiss.

Side event yang menampilkan beberapa ahli dari Indonesia, Malaysia, Belanda dan Amerika Serikat sebagai pembicara, ditujukan untuk berbagi pengalaman mengenai langkah-langkah yang ditempuh di keempat negara tersebut untuk mencegah pengembangan senjata biologi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari penelitian ilmu hayati. Bak dua mata pisau, penelitian ilmu hayati dapat menguntungkan maupun merugikan umat manusia. Di satu sisi, penelitian ilmu hayati dan terapannya dapat digunakan untuk kepentingan di bidang medis, pertanian, bioteknologi dan bahkan forensik. Namun di sisi lain, bahan dan materi penelitian ilmu hayati seperti agen hayati, racun, dan berbagai jenis turunannya dapat pula digunakan untuk pengembangan dan produksi senjata biologi. Sebagai contoh, pada September 2001, terjadi serangan senjata biologi di Amerika Serikat dengan menggunakan medium surat yang berisi  spora virus antraks (Bacillus anthracis) yang menewaskan lima orang.

Sebagai sumbangsihnya terhadap upaya nasional pencegahan penyalahgunaan bahan dan materi penelitian ilmu hayati inilah, AIPI menyusun Pedoman Perilaku untuk Keamanan Hayati. Pedoman Perilaku ini diluncurkan pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu, bertepatan dengan perayaan 25 tahun AIPI. Pedoman Perilaku ini ditujukan kepada para peneliti di laboratorium, komunitas sains, industri dan organisasi terkait di Indonesia. Pada side event tersebut, banyak pihak yang menyampaikan apresiasinya terhadap peluncuran Pedoman Perilaku ini dan menawarkan kerja sama untuk sosialisasi dan penerapan dari Pedoman Perilaku untuk Keamanan Hayati di Indonesia. Dr. Herawati yang juga merupakan anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menyampaikan bahwa peluncuran Pedoman Perilaku ini merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan atmosfer penelitian ilmu hayati yang kondusif, aman dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kesinambungan dalam mewujudkan hal tersebut sangatlah diperlukan. Oleh karenanya, Dr. Herawati menekankan pentingnya penerapan Pedoman Perilaku maupun langkah lanjutannya.

Pembicara lain yang hadir pada side event kali ini adalah Dr. Zalini Yunus dari Malaysia, Dr. Susan Coller-Monarez dari Amerika Serikat dan Ayse Aydin dari Belanda.

Jenewa, 12 Agustus 2015

 

BWC

Keterangan foto : Dr. Herawati Sudoyo (kanan), Deputy Director Eijkman Institute hadir sebagai pembicara pada side event yang bertemakan “National Measures to Address Dual Use Research” (dok. PTRI Jenewa)

Useful Links
Deplu
Depkes
Budpar
BKPM
UN
WHO
ILO
Nafed
WIPO
WTO
ITU