March 24, 2017

Indonesia Permasalahkan Kembali Hambatan Masuk Ekspor Buah Manggis ke Pasar Tiongkok


Indonesia memanfaatkan sesi ke-68 pertemuan Komite Sanitari dan Fitosanitari (Sanitary and Phytosanitary / SPS) pada World Trade Organization (WTO) untuk kembali mengangkat isu hambatan perdagangan terhadap ekspor buah manggis dari Indonesia ke Tiongkok.

Manggis segar asal Indonesia dikenakan larangan masuk ke pasar Tiongkok sejak tahun 2013. Berdasarkan informasi dari pihak Tiongkok, larangan tersebut diterapkan karena ditemukan hama seperti organisme parapupto hispidus; serta terdeteksi manggis asal Indonesia mengandung logam berat kadmium – yang biasanya ditemukan dalam pestisida – secara berlebihan.

Namun demikian, ″Indonesia telah mengambil langkah-langkah (yang telah disepakati antara kedua negara) untuk menyelesaikan isu ini, termasuk verifikasi di lapangan (field verification) dan verifikasi laboratorium keamanan pangan (verification of food safety testing laboratories)…Indonesia juga telah menampung concerns Tiongkok terhadap draft Protokol Persyaratan Fitosanitari (Protocol of Phytosanitary Requirements) untuk ekspor buah manggis dari Indonesia ke Tiongkok″, demikian disampaikan delegasi Indonesia kemarin, 23 Maret 2017, pada sidang SPS-WTO dimaksud.

″Karena tidak adanya respon positif dari Tiongkok sejak pertemuan Komite SPS yang lalu, Indonesia ingin kembali menyampaikan keprihatinan (serious concern) terhadap larangan impor buah manggis segar asal Indonesia. Indonesia mengharapkan Tiongkok untuk menanggapi concern ini secara serius, dan Indonesia berharap untuk membahas tindak lanjut masalah ini secepatnya″, tambah delegasi Indonesia.

Pada awal Oktober 2016, Indonesia dan Tiongkok hampir menandatangani kesepakatan Protokol Persyaratan Fitosanitari tersebut. Namun pihak Tiongkok pada menit-menit terakhir menunda penandatanganan dimaksud dengan alasan terdapat beberapa aturan yang masih akan dikaji.

Protokol fitosanitari yang tengah diupayakan ini akan memberikan akses pasar langsung bagi manggis Indonesia ke pasar Tiongkok, sesuatu yang selama ini tidak dinikmati oleh produsen dan eksportir manggis dari Indonesia karena untuk mengirim ke Tiongkok harus melalui negara ketiga. Secara ekonomis, protokol tersebut akan  meningkatkan margin keuntungan produsen dan eksportir manggis di Indonesia.

Delegasi Indonesia, sesuai yang disampaikan saat pertemuan forum SPS-WTO, menganggap sikap Tiongkok ini melanggar ketentuan Perjanjian SPS WTO, karena prosedur yang diterapkan tanpa alasan yang jelas – dalam membatasi perdagangan manggis dari Indonesia, termasuk mengulur-ulur penandatanganan protokol impor manggis dimaksud – telah diterapkan secara sewenang-wenang; dan telah mendiskriminasi manggis dari Indonesia tanpa dasar yang dibenarkan oleh Perjanjian SPS.

Delegasi Tiongkok menanggapi concern Indonesia ini dengan menyampaikan bahwa ″saat ini Tiongkok tengah menjalani prosedur hukum internal (terkait dengan persetujuan Protokol Persyaratan Fitosanitari).″

Pertemuan Komite SPS-WTO kali ini merupakan kesempatan yang kedua kalinya bagi Indonesia mengangkat isu hambatan masuk manggis Indonesia ke pasar Tiongkok, yang mana isu ini pertama kali diangkat Indonesia di forum SPS-WTO pada pertemuan Komite SPS-WTO yang sebelumnya pada akhir Oktober 2016. Selain melalui forum WTO, concern ini sudah diangkat dalam berbagai kesempatan pertemuan bilateral – baik pada tingkat pejabat tinggi maupun pada tingkat menteri kedua negera.

 

Sumber: PTRI Jenewa – Fungsi Ekonomi II

Useful Links
Deplu
Depkes
Budpar
BKPM
UN
WHO
ILO
Nafed
WIPO
WTO
ITU