November 16, 2017

INDONESIA DESAK MASYARAKAT INTERNASIONAL ATASI AKAR MASALAH ARUS PENGUNGSI


Pada panel Thematic Discussion ke-5 proses penyusunan Global Compact on Refugee yang diadakan oleh Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di Kantor PBB di Jenewa pada hari Rabu, 15 November 2017, Wakil Tetap Republik Indonesia pada PBB di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, menekankan bahwa “solusi yang langgeng dan terbaik dalam mengatasi persoalan pengungsi adalah dengan peningkatan upaya masyarakat internasional untuk secara langsung mengatasi akar permasalahan yang menjadi pendorong utama dari arus pengungsi di negara asal nya, baik itu masalah keamanan, ekonomi,  masalah HAM, atau kebebasan fundamental.”

Ditekankan pula oleh Dubes Hasan Kleib bahwa “Meskipun masyarakat internasional perlu terus mengatasi arus pengungsi melalui pemulangan secara sukarela ke negara asal, pemukiman kembali di negara ketiga, maupun reintegrasi di negara transit, namun di lain pihak masyarakat internasional juga perlu tetap mengupayakan terciptanya jalur migrasi internasional yang aman, teratur dan berdasarkan aturan hukum”.

Duta Besar Hasan Kleib, yang  menjabat sebagai ketua Bali Process periode 2012–April 2017, telah secara khusus diundang oleh UNHCR untuk  menjadi panelis dan memaparkan peran dan kontribusi Bali Process dalam penanganan masalah pengungsi secara komprehensif. UNHCR juga melihat peran dan kepemimpinan Indonesia di kawasan untuk atasi persoalan migrasi internasional yang aman. Diskusi panel menghadirkan panelis yang terdiri dari sejumlah perwakilan organisasi regional yaitu ECOWAS, African Union, Organization of American States,  Liga Arab dan Bali Process.

Dalam kesempatan tersebut, Dubes Hasan Kleib menguraikan di hadapan para delegasi negara-negara anggota PBB mengenai tujuan dan berbagai capaian Bali Process yang diketuai bersama oleh Indonesia dan Australia, sebagai institusi regional di kawasan Asia Pasifik yang berfokus pada pencegahan dan pemberantasan penyelundupan manusia dan perdagangan orang serta kejahatan lintas-negara terkait lainnya.

Disampaikan oleh Dubes Hasan bahwa meskipun mandat dari Bali Process berfokus pada penanganan penyelundupan manusia dan perdagangan orang, namun keutamaan Bali Process  dalam pembangunan kapasitas, keahlian, kerjasama dan jejaring di kawasan telah membantu kesiapan kawasan dalam penanganan migrasi ireguler, khususnya pengungsi dan pencari suaka, serta mendorong terbentuknya jalur migrasi yang aman dan teratur di kawasan Asia Pasifik. Oleh karenanya ditegaskan bahwa praktek dan pengaturan kerjasama regional dalam kerangka Bali Proses dapat menjadi model bagi kerangka penanganan pengungsi secara komprehensif dan program aksi pada Global Compact for Refugees.

Kegiatan diskusi tematik yang dihadiri oleh negara-negara anggota PBB dan organisasi internasional pemangku kepentingan terkait, bertujuan untuk menjaring berbagai masukan negara-negara dan pemangku kepentingan internasional dalam menyusun Global Compact on Refugee, yang akan terdiri dari dokumen Comprehensive Refugee Response Framework (CRRF)  dan Programme of Action, sebagai pendukung implementasi CRRF.  Dijadwalkan pada bulan Februari 2018, UNHCR telah dapat menyelesaikan konsep awal dokumen Global Compact on Refugee ini untuk dikonsultasikan kembali  dan disepakati oleh negara-negara anggota di Sidang Majelis Umum PBB bulan September 2018.

Jenewa, 16 November 2017

 

20171116 Pengungsi

 

Keterangan foto : Wakil Tetap Republik Indonesia pada PBB di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, saat menjadi panelis pada Thematic Discussion ke-5 proses penyusunan Global Compact on Refugee tanggal 15 November 2017 di kantor PBB Jenewa (dok. PTRI Jenewa)

Useful Links
Deplu
Depkes
Budpar
BKPM
UN
WHO
ILO
Nafed
WIPO
WTO
ITU