Pelibatan Masyarakat dalam Pengelolaah Lahan Gambut di Indonesia menjadi Referensi Global

February 1, 2019 Economy, Development and Environment

 

Program restorasi lahan gambut Indonesia yang melibatkan masayarakat lokal sebagai mitra menjadi model rujukan bagi negara-negara di dunia. Hal itu selaras dengan pemaparan panelis pada seminar “Wetlands and Climate Change” dalam rangka Hari Lahan Basah Sedunia (World Weatlands Day) yang diselenggarakan oleh Sekretariat Konvensi Ramsar di kantor World Meteorological Organization (WMO) di Jenewa, Swiss, 31 Januari 2019. Konvensi Ramsar merupakan perjanjian internasional tentang pelestarian lahan basah dan penggunaannya secara berkelanjutan.

Para pembicara dalam acara tersebut adalah Martha Urrego (Sekjen Konvensi Ramsar), Socorro Liera (Wakil Tetap Meksiko), Bernard Giraud (CEO Livelihoods Venture), Stuart Crane (manajer program UN Environment), Oksana Tarasova (Kepala Divisi Riset WMO) dan Awidya Santikajaya (Counsellor Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB / PTRI). Pada acara yang dihadiri perwakilan dari Perutusan Tetap berbagai negara dan organisasi internasional tersebut, para pembicara menekankan bahwa komunitas global perlu meningkatkan aksi dan koordinasi untuk menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin dirasakan nyata.

Salah satu kontribusi Indonesia dalam mengurangi pemanasan global adalah melalui pelestarian lahan gambut. Lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar, yaitu 25% karbon global, meskipun luasnya hanya sekitar 3% dari total luas daratan dunia. Dengan demikian, kekeringan dan kerusakan lahan gambut akan menimbulkan peningkatan emisi gas yang signifikan.

Sebagai negara dengan jumlah lahan gambut tropis terbesar, Indonesia memiliki peran penting dalam pelestarian lahan gambut. “Indonesia mengedepankan keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya pembasahan kembali lahan gambut yang kering (rewetting), penanaman kembali (revegetation) dan pembukaan lapangan kerja (revitalization of livelihoods),” ungkap Awidya. Salah satu contoh pelibatan masyarakat adalah pembentukan Desa Peduli Gambut sebagai mitra Badan Restorasi Gambut untuk membantu pelestarian lahan gambut di berbagai wilayah Indonesia.

“Indonesia adalah contoh bagi masyarakat global bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya terkait isu teknis dan ilmiah belaka, tetapi perlu disertai dengan upaya transformasi sosio ekonomi masyarakat yang krusial untuk mendukung keberhasilan konservasi lingkungan,” jelas Martha Urrego. Pelibatan masyarakat tersebut menjadi salah satu kunci keberhasilan pemerintah mengurangi jumlah titik kebakaran hutan dari 70.000 pada 2015 menjadi sekitar 9.000 pada 2018.

Indonesia aktif mempromosikan kerja sama internasional dalam pengelolaan lahan gambut, di antaranya dengan menjadi pendiri Global Peatland Initiative (GPI). “Indonesia berharap semakin banyak negara dan organisasi internasional yang bergabung pada GPI untuk mendukung restorasi dan konservasi lahan gambut global. Indonesia juga siap berbagi pengalaman dan memberikan bantuan teknis untuk pelestarian lahan gambut dalam skema Kerja Sama Selatan-Selatan,” jelas Hasan Kleib, Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, WTO dan Organisasi Internasional Lainnya di Jenewa.

Jenewa, 31 Januari 2019

Keterangan foto : Para panelis pada seminar “Wetlands and Climate Change“ di Jenewa tanggal 31 Januari 2019 (dok. PTRI Jenewa)