Kepemimpinan Indonesia dalam Mengatasi Perdagangan Ilegal Satwa Liar Diakui Komunitas Global

August 18, 2019 Topics, Economy, Development and Environment

Indonesia mendapatkan apresiasi dari berbagai negara atas pencapaian dan prestasi dalam mengatasi perdagangan satwa liar illegal pada sidang COP 18 Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) di Jenewa, Swiss, 16-28 Agustus 2019. Hal itu terbukti dari terpilihnya kembali Indonesia sebagai anggota Standing Committee (SC) CITES mewakili Asia-Pasifik setelah memenangkan pemungutan suara yang berlangsung ketat. Posisi SC sangat strategis dalam merencanakan dan mengimplementasikan program kerja CITES, mengawasi kinerja Sekretariat CITES, serta memastikan terwakilinya kepentingan negara-negara berkembang.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Drh. Indra Exploitasia yang memimpin Delegasi Indonesia dari berbagai kementerian menjelaskan bahwa Indonesia selama ini termasuk negara berkembang yang memiliki kerangka legislasi lengkap untuk melindungi spesies terlindungi melalui penegakan hukum dan penguatan sistem pasar perdagangan spesies yang legal.

Antara tahun 2015-2019, Indonesia telah melakukan 247 operasi penanganan perdagangan satwa liar ilegal dengan mengumpulkan bukti sebanyak 222.089 satwa. Untuk mengatasi perdagangan satwa liar secara online, pemerintah juga membentuk Cyber Patrol, yang sejak bulan Oktober 2017 telah mengamankan perdagangan liar 34 spesies reptil, 52 spesies burung, dan 13 spesies reptil.

COP 18 CITES juga menjadi ajang bagi Indonesia untuk menunjukkan keberhasilan dalam kerja sama internasional. Dalam kegiatan diskusi side-eventIndonesia’s Conservation Initiatives: Curbing Illegal Wildlife Trade and Strengthening Legal Market System,” selain pembicara dari Indonesia, juga hadir pembicara dari pemerintah Malaysia dan Tiongkok, serta ASEAN Center for Biodiversity yang mengapresiasi peran konstruktif Indonesia dalam membangun kerja sama penegakan hukum dan tukar-menukar informasi antar negara untuk mengatasi perdagangan ilegal satwa liar.  

Wakil Tetap Indonesia untuk PBB di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib yang memberikan sambutan pada side-event tersebut menjelaskan bahwa perdagangan ilegal satwa liar termasuk kejahatan transnasional yang dari segi kerugian materiil yang diakibatkannya setara dengan human trafficking dan narkoba. “Lebih dari 7.000 spesies liar diperdagangkan secara ilegal di lebih dari 120 negara. Tidak ada satu negara pun yang mampu mengatasi masalah ini secara mandiri. Untuk itu, kerja sama internasional menjadi kunci penting untuk mengatasi perdagangan ilegal satwa liar,” tambah Hasan Kleib.

Di sela-sela COP 18 CITES, Delegasi Indonesia melakukan pertemuan bilateral dengan sekitar 60 negara. Dalam pertemuan bilateral tersebut, beberapa negara berkembang telah mengajukan permohonan agar Indonesia dapat memberikan capacity building training untuk membantu penyusunan peraturan perundangan, pelatihan petugas, pembuatan traceability system, dan penguatan kerja sama lintas institusi pemerintah. Pemberian capacity building training akan semakin memantapkan peran positif Indonesia dalam membantu mengatasi perdagangan ilegal satwa liar global.